Spirit Traveling: Jalan-jalan itu adalah ?

Pelabuhan Tulehu Ambon, menuju Saparua (Model: Endro, Alicia)

Sebagian dari kita secara psikologis senang yang namanya jalan-jalan (traveling). Dari sudut pandang manapun syah-syah saja konsep traveling itu dipilih untuk dilakukan. Ada yang beralasan untuk refreshing, melihat hal-hal baru dan indah di belahan manapun di dunia, mencari pengalaman baru, petualangan, sebagai bagian dari pekerjaan, gathering dengan teman dan keluarga, bagian dari gaya hidup atau memang sekedar bepergian dari satu tempat ke tempat lain karena tradisi budaya dan ziarah keagamaan dan lain sebagainya.

Bahkan Sang Khaliq juga memerintahkan. Secuplik ayatnya “Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi [bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana], maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka (QS Al-Mu’min [40] 82).

Mengambil pelajaran akan keindahan, kebesaran dan keagungan Sang Pencipta memang dasar utama, namun terus terang sebagian dari kita pasti akan selalu menganggap bahwa jalan-jalan adalah untuk senang-senang atau refreshing. Yang artinya semua dari kita berharap agar sekembalinya dari perjalanan mendapat kebahagiaan atau energi yang lebih “fresh” untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Kesibukan ber-gadget ria di atas kapal Pelni (Lokasi: Laut Banda)

Benarkah? Mari coba kita telusuri hal-hal apa saja yang kita “tuai” dari traveling itu, baik dari pengamatan ke sekitar (teman-teman perjalanan) atau pengalaman pribadi:

  • Di jaman serba gadget canggih ini siapa sih yang gak selalu ingin lihat dan update omongan, aktualisasi diri, bikin komentar di social media (facebook, twitter, google+, YM dsb), belum lagi BBM (bagi pengguna HP khusus itu), bales sms, email maupun telpun. Lalu kapan menikmati tempat traveling yang dituju, kalau pikiran dan rasa masih tertinggal di gadget?
  • Saat akan pergi ke tempat tujuan, yang dibayangkan adalah tempat-tempat yang indah, jadiiiii kalau ternyata tempat yang dituju dengan biaya yang relatif mahal gak seperti impian, apa yang Anda pikir dan rasakan?
  • Jiwa raga lelah karena lama waktu tempuh, kemudian menghadapi pelayanan yang ditawarkan oleh sarana prasarana yang begitu adanya, dan apa yang timbul? Itu semua adalah “kejahatan” pemerintah yang gak “pecus” mengelola, anggaran dikorupsi dsb. Dan jika itu dikelola perorangan atau swasta maka saat itu juga atau besoknya sudah muncul status celaan, grundelan dan hujatan di facebook, twitter dan aneka media lainnya….nikmatkah perjalanan seperti ini? hmmmm :)
  • Sikap teman perjalanan yang aneka rupa, sepertinya termasuk “pengganggu” paling canggih dalam kenikmatan perjalanan. Betulkannnnnn ? Bohong kalau tidak ngaku :p
  • Hal lain apa yang biasa kita temui? Anda bisa menambahkan di sini :)

Yahhh….begitulah kita sebagai manusia yang dilengkapi akal dan emosi, yang kalau tidak dikelola dengan tepat, tidak akan menuai hal yang lebih positif yang bisa kita rasakan.

Satu-satunya jalan untuk menikmati apapun hasil traveling adalah “MENERIMA” sepenuh rasa dengan seluruh indra (mata, telinga, mulut, kulit dan raga).

Menikmati keindahan Bandanaira (Model by: Endro)

Usaha minimal yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Matikan dan simpan gadget untuk lebih menghormati alam, lingkungan dan teman, jika belum mampu menerima mereka dalam menikmati perjalanan.
  2. Hargai secara apa adanya kondisi alam, lingkungan serta fasilitas yang ada, anggap itu “kelebihan” yang dimiliki untuk lebih bersyukur bahwa apa yang kita punyai jauh lebih layak dan nyaman.
  3. Bagaimanapun sikap dan perilaku teman, cocok maupun gak cocok, sejak dari awal mereka bersedia menjadi teman perjalanan kita. Jadi terima saja dia saat itu :)
  4. Rekam jejak perjalanan kita dalam dokumentasi pribadi baik dalam bentuk gambar dan tulisan, untuk kita kisahkan kembali kepada siapapun yang membutuhkan. Lebih bermakna kalau itu dari sisi positifnya.

Perairan Laut Bandanaira

Gak tahu apakah itu bisa menghibur, merusak atau apakah memang bakal me-refresh energy yang kita harapkan, yang pasti semua adalah pembelajaran luar biasa dari Sang Maha Pencipta untuk kita semua. Menjadi manusia yang lebih baik, biasa saja atau kurang, tetapi saya percaya bahwa semuanya tetap bermakna.

Bagaimana pengalaman Anda teman? Bisa di-share di sini…….selamat ber-traveling dengan spirit ya :)

Catatan Pemudik 2: Mudik, Menjadi Traveler yang Bertanggungjawab ?

Hargailah Produk Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Hargailah Produk Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Seumur hidup saya, nyaris setiap tahun selalu melakukan tradisi mudik pada Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Dari sisi kegembiraan, tentu saja luar biasa gembira. Saya kurang tahu bagaimana awalnya kenapa setiap Lebaran selalu menciptakan suasana kegembiraan tersendiri. Namun dibalik semua kemeriahan dan kegembiraan “pesta” Lebaran ini, selalu ada yang mengusik kegembiraan saya dalam menyambutnya, bahkan kadang bisa merusaknya. Yaitu saat ber-traveling itu sendiri.

Traveling mudik jelas memerlukan alat transportasi agar sampai ke tempat tujuan sesuai waktu yang direncanakan. Memperoleh moda tranportasi yang layak, berikut kemudahan dalam memperolehnya serta biaya yang relatif murah akan sangat mendukung kenyamanan untuk bertraveling.

Tetapi yang saya rasakan semakin tahun jika Lebaran tiba, soal transportasi ini bukannya bertambah nyaman, mudah serta murah, malah sebaliknya.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah turut mendukung biaya mahal serta terbatasnya angkutan umum bagi rakyat. Semua perusahaan transportasi ramai-ramai menaikkan tuslah biaya transportasi nyaris 100%.

Dapat dibayangkan masyarakat umum cenderung menggunakan kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasi murah. Ribuan mobil-mobil pribadi atau sewaan dan sepeda motor, yang jumlahnya makin meningkat dari tahun ke tahun otomatis menyesaki jalanan menuju daerah tujuan.

Apa akibat semua itu? Kemacetan sudah menjadi gambaran umum yang bisa dilihat dimana-mana pada seminggu sebelum maupun sesudah Lebaran, terutama di jalur-jalur yang ramai.

Dari yang saya lihat perilaku para traveler ini banyak yang kurang bertanggungjawab, mereka cenderung kurang memperhatikan keselamatan pribadi apalagi keselamatan traveler lain.

Dengan alasan ingin segera sampai ke tempat tujuan, perilaku egois untuk mendahului traveler lainnya sangat mengerikan. Kebut-kebutan (supaya tidak ngantuk), syah-syah saja dilakukan. Bahkan kalaupun terpaksa parkir istirahat, kadang berhenti begitu saja di pinggir jalan yang sempit dan akan mengganggu pengguna jalan lainnya. Yang ekstrim, saking ngantuknya ada yang berhenti begitu saja di tengah jalan, bisa dibayangkan kejadian macet berjam-jam ternyata kadang akibat ulah mereka ini.

Hargailah Traveler Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Hargailah Traveler Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Pemudik sepeda motor manurut saya malah makin sembrono. Mungkin karena merasa tidak memerlukan area yang lebar, mereka dengan leluasa belak belok zig-zag disela-sela mobil-mobil besar baik dari sisi kanan maupun kiri kendaraan. Selain bikin para sopir mobil kebingungan, juga bikin miris yang melihatnya karena mereka seringkali memboncengkan keluarga atau temannya melebihi kapasitas yang diijinkan. Yang lebih ngeri kalau ada bayi diantara yang diboncengkannya. Duh !

Mudik di waktu malam tak lebih nyaman dari siang hari, hanya kalau malam, para pengguna jalan dari penduduk lokalnya jauh berkurang, dan tidak sepadat siang hari. Namun bisa saja karena penerangan yang kurang, terserang kantuk dan lelah, tetap saja berbahaya jika tidak hati-hati.

Sementara mudik di siang hari, para traveler harus lebih bertanggungjawab memperhitungkan lalu lintas lokal, khususnya keramaian pusat-pusat kota dan pasar-pasar tradisional.

Saat mudik dua minggu lalu, saya sengaja memperhatikan dengan rasa miris ketika lewat di pusat kota kecil sepanjang pantura Pulau Jawa, khususnya yang ada pasar tradisionalnya, dimana penduduk lokal yang bepergian dengan kendaraan tradisional – becak, dokar, dan sepeda – seperti tersisih dari kehebohan tranportasi modern. Waktu itu bahkan saya lihat seorang ibu dengan sekarung besar bawaan di boncengan sepedanya, terpaksa terseok-seok berusaha jalan ke pinggir agar tak tersenggol kendaraan besar. Hmm…

Dari pengalaman bertahun-tahun mudik, secara pribadi saya selalu merenung dan bertanya apakah menjadi pemudik yang bertanggungjawab itu sulit?

Mungkin banyak yang akan menjawab “sulit”, dan malah lempar melempar tuduhan yang intinya “bukan diri sendiri” penyebab masalah kerumitan bermudik, tapi unsur eksternal yaitu orang lain dan pasti berujung pada kebijakan pemerintah yang kurang benar. Baiklah, memang yang memiliki otoritas pembuat aturan dan infrastruktur umum yang berimplikasi pada kenyamanan dan kesejahteraan bersama adalah pemerintah, tapi kalau tidak didukung para individu untuk “bertangungjawab” dalam menyamankan diri sendiri dan sesamanya, maka semua aturan pemerintah juga tidak ada artinya.

Dalam kasus mudik, kalau setiap individu mampu memahami bahwa tujuan mudik adalah dalam rangka silaturahmi (karena puncaknya pada Hari Lebaran) yang beresensi luas maka hal-hal sederhana berikut jika dipraktekkan akan berakibat “mudah” bagi semua:

  • Bersikap TENANG dalam ber-traveling, meskipun ini agak sulit diterapkan tapi ternyata menjadi kontributor paling signifikan dalam kebaikan bagi sekitarnya, karena hati yang tenang akan mengeluarkan energi positif yang menurunkan tingkat kekacauan sekitarnya (Buku “Law of Resonance” karya Pierre Franckh).
  • Bersilaturahmi: menganggap sesama pemudik dan penduduk lokal yang dilaluinya adalah saudara, otomatis sikap positif terhadap sesama muncul dalam berbagi fasilitas umum (jalanan, tempat istirahat, tempat parkir dsb.)
  • Tenggang rasa: rela antri, mendahului dengan cara yang aman dan beristirahat di tempat yang tidak mengganggu kelancaran berlalu lintas.
  • Pemberdaya: jika belanja pilihlah yang memberdayakan ekonomi penduduk setempat, misal makan di warung/resto, makanan khas dan produk lokal lainnya.
  • Menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan tempat-tempat yang dilaluinya.
  • Mematuhi peraturan lalu lintas yang ada.
  • Jika naik kendaraan umum, tidak berebutan secara berlebihan yang berujung pada kekerasan fisik pada sesama traveler lain.
  • Dan sikap positif lainnya.

Siap menjadi traveler yang bertanggungjawab ? :)

Catatan Pemudik 1: Mudik, Traveling Bersih-bersih

Keceriaan Ramadhan di Pekuburan Pulau Tidung

Keceriaan Ramadhan di Pekuburan Pulau Tidung

Berawal dari sebuah pertanyaan di salah satu milist yang saya ikuti, dimana salah satu teman melemparkan pertanyaan tentang mudik di Indonesia kenapa tidak dijadikan ajang promosi wisata? Kebetulan “pesta mudik” tahun ini belum usai, maka saya tergelitik untuk mencoba bikin tulisan ini.

Fenomena mudik di Indonesia memang luar biasa. Negara yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia ini setahun sekali selalu ada acara mudik besar-besaran yang khusus terjadi pada Hari Raya Idul Fitri. Saya kurang tahu kenapa tradisi mudik ini dipilih warga muslim (dan non muslim) Indonesia hanya pada Hari Raya Idul Fitri, meskipun ada hari-hari besar keagamaan lainnya. Sementara di negara asal agama Islam yaitu Arab Saudi tidak ada tradisi mudik apalagi yang tergolong besar-besaran seperti di Indonesia. Di sana yang ramai justru pada saat Hari Raya Idul Adha atau puncaknya ibadah haji dilaksanakan.

Mudik yang diartikan kegiatan para perantau untuk kembali ke kampung halamannya (http://id.wikipedia.org/wiki/Mudik) ini, menurut budayawan Umar Kayam dipelopori oleh masyarakat Jawa sejak sebelum berdiri Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu mudik dilakukan dengan melakukan ritual doa kepada dewa-dewa untuk membersihkan kuburan dan kampung halamannya. Namun setelah agama Islam datang, ritual itu dianggap syirik (menyekutukan Tuhan) dan digantikan menjadi budaya mudik untuk silaturahmi di hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri (http://www.surya.co.id/2010/09/07/mudik-atau-pamer-sukses.html).

Dengan mengetahui kronologis tradisi mudik berawal, ternyata mudik bukan sekedar traveling biasa. Tapi orang sengaja melakukan suatu perjalanan – dekat maupun jauh – ke tempat leluhurnya berasal, bertujuan melakukan ritual “bersih-bersih” secara fisik maupun non fisik (hati/jiwa).

Traveling ke Masjid Menoro Kudus

Traveling ke Masjid Menoro Kudus

Baik agama sebelum Islam maupun Islam sendiri, ternyata mengajari tentang tradisi “kebersihan”. Kegiatan ini kalau diimplementasikan secara nyata, maka akan menimbulkan efek pembelajaran secara luar biasa. terhadap lingkungan sekitar kita.

Dari segi fisik, membersihkan rumah, halaman, jalan desa, kuburan dsb – dalam tradisi Islam di Jawa bersih kubur dilakukan sebelum bulan puasa (nyadran) dan saat hari raya – berarti mengajari kita untuk selalu menjaga kebersihan dan keindahan lingkungannya, terlebih jika rutinitas ini dilestarikan bukan hanya saat hari-hari tertentu saja.

Tentang kebersihan non fisik (hati/jiwa), mengambil ajaran Islam dimana umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah yang artinya membayarkan sebagian hartanya dalam jumlah tertentu sebagai pembersih jiwa dan menjadi penutup ibadah sebulan berpuasa, maka Hari Raya Idul Fitri diartikan sebagai telah kembalinya jiwa-jiwa (hati) yang bersih.

Ritual tidak hanya berhenti disitu, karena dalam budaya Idul Fitri di Indonesia masih dilanjutkan dengan aktivitas silaturahmi baik kepada keluarga, tetangga dan warga yang ditemuinya. Efeknya apa? Kita diminta untuk mampu berlaku ramah, berempati, memberi, menghargai, melayani tamu, saling memaafkan, dan sikap-sikap positif lainnya, yang berakibat pada terjalinnya tali persaudaraan diantara sesama. Hmmm!

Karena saya ingin memfokuskan fenomena mudik dalam kaitannya dengan promosi wisata Indonesia, maka ritual pembersihan fisik dan non fisik ini tentu luar biasa pula efeknya. Jika budaya “bersih” telah mengakar kuat dalam benak dan menjadi sikap dasar masyarakat Indonesia, akan menjadi motor penggerak wisata yang brilian. Kenapa? Lingkungan yang bersih, indah serta keramahtamahannya, secara otomatis menjadi magnet tersendiri bagi bangsa-bangsa lain untuk ber-traveling ke negara tercinta ini.

Apalagi tradisi mudik ini seperti peristiwa exodus yang diliput media secara besar-besaran. Promosi gratis sudah pasti terjadi.

Tertarikkah Anda untuk selalu mengimplementasikan “kebersihan” ini sehari-hari? :)

Traveling with Kopi

Cangkir Coffee Make Friends Property by Kopi Progo

Cangkir Coffee Make Friends Property by Kopi Progo

Meskipun hanya minuman, khusus bagi peggemar setianya terkadang kopi memiliki keeksotisan tersendiri :)

Mungkin karena warna hitam gelapnya, keharuman baunya yang khas, rasanya yang “wah” atau yang lainnya, yang pasti perpaduan dari semua unsur kopi, saya namakan eksotis.

Nampak berlebihan, tapi menurut saya pribadi yang bukan tergolong kopi addict alias pecandu – faktanya saya minum kopi sejak balita, dan rata-rata 2-3 gelas sehari, hehe – rasanya luar biasa nikmat. Apalagi kalau diminum di pagi atau sore hari dalam keadaan panas-panas. Makin terasa menyegarkan diminum pada siang hari tatkala kantuk atau lesu menyerang padahal tuntutan produktivitas harus tinggi (fakta lagi, kantuk tetap datang walau saya sudah minum secangkir kopi :) ). Slurrpp….

Rasanya yang rada gurih (menurut saya), dimungkinkan saat pembuatannya dicampuri beberapa bahan lain. Terus terang saya kurang suka kopi asli yang pahit, karena saya mendefinisikan bahwa kopi itu minuman, jadi kenapa musti pahit layaknya jamu. Meskipun demikian bagi penggemar kopi asli justru banyak yang suka minum “hanya kopi” tanpa gula atau campuran lainnya.

Proses pembuatan pun bermacam-macam, tergantung selera. Yang paling saya ingat di luar kepala adalah kopi tubruk “made in” nenek saya yang dibuat dari campuran beras, irisan kelapa tua, bawang merah dan biji kopi yang dibeli di Pasar Bareng Kudus. Semua bahan dengan takaran tertentu disangan (digoreng tanpa minyak) di wajan tanah di atas “pawon” (tungku dari batu bata berbahan bakar kayu) sampai masak berwarna hitam/gosong. Masih dalam keadaan kering lalu ditaruh di “lumpang” (semacam yoni atau lesung) dari batu dan ditumbuk dengan “alu kayu” sampai halus. Hasil tumbukan kopi kemudian diayak dengan ayakan/saringan seng agar menghasilkan bubuk kopi yang sangat halus.

Dari segi rasa – dan mungkin karena itu rasa kopi yang pertama kali saya cecap – jelas tak ada bandingannya. Saya baru menemukan rasa kopi tubruk kampung yang setara dengan kopi buatan nenek saya itu kira-kira bulan Februari 2010 lalu, yaitu waktu saya makan dan minum di sebuah warung yang menyajikan menu “jangan mrico” plus kopi tubruknya di kota Lasem.

Kembali ke wacana tentang kopi, pada awalnya kopi diyakini di kalangan para pakar kesehatan memiliki efek negatif bagi kesehatan karena kandungan caffeine-nya, namun dari hasil riset terkini justru sebaliknya. Minum kopi dalam ukuran-ukuran tertentu (banyak) malah bisa mengurangi resiko terkena gangguan penyakit, antara lain diabetes, liver, jantung koroner dan lain-lain (http://www.resep.web.id/kesehatan/kopi-tak-seburuk-yang-dikira.htm)

Selain mengetahui khasiatnya, khusus bagi yang suka traveling atau minimal penikmat wisata kuliner walau hanya dari kafe ke kafe, dan menyempatkan diri untuk menikmati secangkir atau dua cangkir kopi, secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, yang dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia.

Bagaimana itu bisa terjadi ?

Coba bayangkan hanya dengan minum secangkir kopi, kita telah menghidupkan asap dapur ribuan orang yang bekerja dalam industri kopi dari hulu hingga hilir, baik industri rumahan maupun pabrikan. Urutannya, dari petani pemilik lahan perkebunan (jika yang memiliki perorangan), pekerja lahan, buruh pemetik, pengangkut, pengolah (perorangan maupun pabrik), pedagang (warung, pasar tradisional, toko eceran/retail), pekerja kafe/warung dan pemilik, juga sekaligus keluarga mereka. Mereka akan sangat berterimakasih sekali kepada para konsumen penikmat kopi.

Tentu saja kontribusi yang berharga ini akan bekerja secara signifikan kalau yang dinikmati juga kopi produksi lokal Indonesia. Sebagai informasi, Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam (http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=5975&cat=CT0015).

Fakta yang sangat menarik ini walau secara pasti menguntungkan dari segi ekspor dan mengundang banyak devisa, akan jauh lebih bergengsi jika penikmatnya adalah warga Indonesia yang bangga mengkonsumsi produk lokal. Karena dengan banyaknya orang lokal yang mengkonsumsi kopi dalam negeri, secara tidak langsung juga menjadi sarana promosi yang efektif dalam menjual produknya kepada bangsa lain.

Berikut adalah beberapa kopi dari kafe dan warung lokal yang sempat saya nikmati bersama teman-teman. Mempromosikannya berarti kita telah dan akan berbagi kepada sesama :)

Selamat menikmati keeksotisan kopi !

Koepi Toebroek Djawa - Kopitiam Oey Jl H Agoes Salim 18 Djakarta Poesat

Koepi Toebroek Djawa - Kopitiam Oey Jl H Agoes Salim 18 Djakarta Poesat

Kopi Luwak Careuh Bulan - Kedai Kopi Mata Angin Jl Bengawan 52 Bandung

Kopi Luwak Careuh Bulan - Kedai Kopi Mata Angin Jl Bengawan 52 Bandung

Kopi Kintamani - Kedai Kopi Mata Angin Jl Bengawan 52 Bandung

Kopi Kintamani - Kedai Kopi Mata Angin Jl Bengawan 52 Bandung

Kopi Bali - Cafe Bali Jl. RE Martadinata (Riau) 815 Bandung

Kopi Bali - Cafe Bali Jl. RE Martadinata (Riau) 815 Bandung

Kopi Wamena - Kopi Progo Jl. Progo 22 Bandung

Kopi Wamena - Kopi Progo Jl. Progo 22 Bandung

Kopi Tubruk Lasem

Kopi Tubruk Lasem

Kopi Tubruk Pak Haji Balubur - Made by Mbak Prapti

Kopi Tubruk Pak Haji Balubur - Made by Mbak Prapti

Trilogi Bali 3: Otonan, Enam Bulan Pertama Saat Manusia Menapak Bumi

Harapkanlah suatu keberuntungan jika kebetulan sedang traveling ke suatu tempat, apalagi jika ke tempat yang jarang kita kunjungi atau sama sekali baru dan lebih-lebih yang berbeda tradisi budayanya dengan kehidupan kita sehari-hari. Keberuntungan bisa berupa apa saja, misalnya berupa melihat pemandangan unik, menghadiri undangan acara gratis, akomodasi gratis, bertemu orang-orang baru dan menyenangkan dan tentu saja akan sangat luar biasa jika yang kita jumpai adalah salah satu upacara adat setempat yang biasanya memang menjadi salah satu destinasi yang diincar untuk disaksikan. Tapi akan menjadi tidak biasa jika melihat dan menghadiri upacara adat setempat itu diluar rencana semula.

Ini juga terjadi pada kami saat traveling yang tujuan utamanya adalah bisnis tapi malah mendapat bonus dapat undangan menghadiri salah satu upacara adat yang jarang-jarang kami jumpai sehari-hari.

Saat kami mau meeting dengan pemilik sekaligus manager Fortuin Café Jimbaran Bali Bapak Adi Minarta di cafenya pagi itu, tiba-tiba ada pemberitahuan dari pegawainya kalau beliau sedang ada acara Otonan dan kami diundang ke rumahnya. Dari penjelasan pegawainya dan supir mobil yang kami sewa bahwa Otonan (Oton Tuwun) adalah salah satu upacara adat Hindu Bali untuk putranya yang baru berusia 6 bulan. Tentu saja kami senang sekali mendapat kehormatan untuk menghadirinya.

Sekitar jam 9 pagi kami sampai ke rumahnya yang berjarak kira-kira 2 km dari cafenya. Tamu-tamu yang terdiri dari teman, tetangga dan saudara-saudaranya sudah kumpul semua. Kami tertinggal beberapa menit awal acara dimuai, yaitu pemberian doa-doa dari pandhita (pemuka agama Hindu) kepada orang tua dan si bayi yang sedang dipangku oleh ibunya di atas sebuah bale tempat altar sesembahan yang terhampar warna warni aneka sesaji khas Hindu Bali.

Sekitar hampir satu jam acara doa-doa selesai, dilanjutkan dengan bayi mungil, gendut dan lucu berbusana dan udeng putih di kepalanya untuk turun tanah. Dengan dituntun ibunya sang bayi diturunkan dan didudukkan di atas tanah untuk memegang beberapa benda antara lain berisi sesajen bunga-bunga dan aneka makanan yang masing-masing ada maknanya jika dipilih dan dipegang oleh si bayi.

Dari pengamatan kami ternyata itu mirip dengan upacara “tedhak siten” atau turun tanah untuk bayi yang baru berumur 7 bulan dalam adat Jawa.

Tiga jam kemudian setelah kami beramah tamah dan menyantap hidangan yang disajikan antara lain berupa lawar merah (olahan dari darah dan daging babi), capcay, sambal dan ayam betutu (saya memilih capcay, sambal dan ayam yang lebih halal hehe), kami baru meninggalkan rumah Pak Adi dengan perasaan “bungah” apalagi karena memang baru kali ini khususnya bagi saya pribadi melihat acara Otonan tersebut.

Terimakasih Bapak Adi Minarta atas undangannya :)

Artikel lain: http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=1017 dan http://kemoning.info/blogs/?cat=43

01 - Altar sesaji

01 - Altar sesaji

02 - Ritual doa 1

02 - Ritual doa 1

03 - Ritual doa 2

03 - Ritual doa 2

04 - Air suci pemberkatan

04 - Air suci pemberkatan

05 - Penyematan beras kuning ke dahi ibu

05 - Penyematan beras kuning ke dahi ibu

06 - Penyematan beras kuning ke dahi ayah

06 - Penyematan beras kuning ke dahi ayah

07 - Penyematan beras kuning ke dahi bayi

07 - Penyematan beras kuning ke dahi bayi

08 - Penyematan beras kuning ke dahi bayi 2

08 - Penyematan beras kuning ke dahi bayi 2

09 - Membacakan mantra-mantra sesaji Otonan

09 - Membacakan mantra-mantra sesaji Otonan

10 - Sesaji Otonan

10 - Sesaji Otonan

11 - Saat bayi turun tanah pertama kali

11 - Saat bayi turun tanah pertama kali

12 - Saat menentukan pilihan

12 - Saat menentukan pilihan

13 - Pilihan kesekian kali

13 - Pilihan kesekian kali

14 - Kegembiraan usai upacara

14 - Kegembiraan usai upacara

15 - Dalam pelukan Mariella dan Mauro Perno

15 - Dalam pelukan Mariella dan Mauro Perno

Trilogi Bali 2: Senja Kala Pantai Jimbaran, Berhentinya Sang Waktu

Memandang langit, merasakan sejuknya sentuhan sepoi-sepoi angin laut menyapu raga dan menghirup udaranya kala senja tiba, serasa menghentikan sang waktu di pantai Jimbaran. Tidak berlebihan rasanya jika rasa itu yang hadir bagi siapa saja yang meluangkan waktu ke sana, entah itu untuk berlibur, perjalanan bisnis atau sengaja datang hanya untuk menikmati kuliner masakan laut yang segar. Hari esok serasa lenyap dari deretan masa.

Tak hanya itu, dengan beralas pasir putih kecoklatan, suara ombak mendebum menghantam pasir pantai yang seakan kontradiktif dengan permukaan air laut yang nampak beralun tenang, kelembutan dan kehangatan sinar mentari sore, juga memandang pesawat terbang yang mendarat dan terbang berlatar matahari terbenam di cakrawala, seolah tampilan layar panggung pertunjukan alam yang tersibak sontak dari suasana siang yang kering dan terik. Ilustrasi itu menambah semarak suasana ketika deretan café dan restoran seafood seperti seragam mulai menata meja kursi di area pasir putih yang sebenarnya merupakan halaman belakang.

Meskipun café-café tersebut buka pada siang hari, tapi saat senja tiba itulah kehidupan seperti baru dimulai. Hamparan pasir putih pantai yang tadinya kosong dan sepi, tiba-tiba menjadi lautan kursi-kursi dan meja kayu coklat dan hitam yang tertata rapi dengan balutan taplak warna warni seperti layaknya memandang persiapan gelaran sebuah pesta raksasa. Lampu-lampu obor dan lilin penghias meja makan menjadikan suasana makin romantis dan eksotis.

Tak berasa jika semarak Jimbaran akhir Juni 2009 senja itu adalah sebuah daerah pantai yang terletak di sebelah selatan pulau Bali – sekitar 10 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai (www.wikipedia.com) – dan yang sanggup mendatangkan ribuan manusia dari berbagai manca karena selain memang kondisi alamnya yang cantik juga dukungan akomodasi bertaraf internasional, ternyata dulunya merupakan kampung nelayan yang tergolong miskin.

Perbedaan ini bahkan amat kentara karena pada kunjungan saya sebelumnya di tahun 2003 belum seluarbiasa itu, saat itu restoran-restoran tersebut hanya berupa kedai-kedai yang menjajakan aneka makanan laut dengan bentuk bangunan setengah anyaman bambu atau papan dan batu bata di sepanjang pantai itu.

Kembali ke suasana senja itu, bagi saya pribadi makin melarutkan penatnya jiwa raga yang sebelumnya berkonsentrasi menata pesta teman kami. Melihat dan ikut berbaur dengan pasangan Mauro dan Mariela berikut keluarganya yang larut dalam kegembiraan pesta pernikahannya, seperti menyantap sajian seafood, memotong kue, minum (mereka juga minum wine yang khusus dibawa dari Italia), menyalakan kembang api, tertawa, saling menggoda, serta amat fasih menari dan menyanyi lagu reggae dan Lupa-Lupa (lagunya Kuburan yang baru kuketahui malam itu kalau itu lagu orang Indonesia hehe), juga sesekali mereka ikut menari Bali seperti Pendet, Legong dsb., tak terasa waktu bergulir semakin larut malam.

Sambil memandang langit malam yang bertaburan bintang disinari cahaya bulan, saat pesta harus usai, saya sadar hari esok telah menanti untuk segera kembali ke ibukota dan kembali ke peradaban nyata!!

Rinduku pada kembalinya sang waktu kala itu :(

01-Deburan ombak Jimbaran yang khas

01-Debur ombak Jimbaran yang khas

02-Kapal nelayan

02-Kapal-kapal nelayan

03-Fortuin di siang hari

03-Fortuin di siang hari

04-Party prepare

04-Party prepare

05-Meja dan kursi mulai tertata di sepanjang hamparan pasir pantai

05-Meja dan kursi mulai tertata di sepanjang hamparan pasir pantai

06-Senyum gadis Bali pembawa bunga

06-Senyum gadis Bali pembawa bunga

07-Senyum malu pria pembawa bunga

07-Senyum malu pria pembawa bunga

08-Keceriaan toast bersama

08-Keceriaan toast bersama

09-Langit senja mulai membayang

09-Langit senja mulai membayang

10-Sunset Jimbaran

10-Sunset Jimbaran

11-Bak siluet penari Bali

11-Bak siluet penari Bali

12-Temaran lampu saksi janji cinta kasih

12-Temaran lampu saksi janji cinta kasih

13-Temaram cahaya lilin layaknya taburan bintang di hamparan pasir putih

13-Temaram cahaya lilin layaknya taburan bintang di hamparan pasir putih

Trilogi Bali 1: Denyut Nafas Ubud, Sebuah Kenyamanan Desa-Kota

“Ubud, kawasan wisata di Kabupaten Gianyar, Bali, mendapat penghargaan sebagai kota terbaik se-Asia berdasarkan survei pembaca majalah pariwisata yang berbasis di Amerika Serikat, Conde Nast Traveller, awal Januari lalu. Daerah itu dinilai terbaik dari sisi keramahtamahan masyarakatnya, atmosfer atau suasananya, budaya atau situsnya, serta akomodasi, restoran, dan tempat berbelanjanya. Ubud dipilih sebagai kota terbaik se-Asia dengan skor 82,5, mengalahkan Bangkok, Hongkong, Chiang Mai, dan Kyoto. (http://www.ayokebali.com/index.php/page/ayokebali/5/Ubud%20Kota%20terbaik%20Se-Asia dan http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/03072829/keelokan.ubud..kota.terbaik.se-asia)

Hmmm…rasanya penilaian itu belum tepat benar kalau perbandingannya dengan kota-kota yang berpredikat megapolitan seperti di atas. Saya katakan “belum tepat” karena kebetulan saya belum pernah menginjakkan kaki di 4 (empat) kota lainnya jadi secara riil belum pernah merasakan “kenyamanan” yang ditawarkan, dan karena kota-kota megapolitan tersebut yang juga merupakan ibukota negara-negara maju dunia yang pastinya dari segi luas, fasilitas, modernisitas dan kepadatan penduduknya amat jauh berbeda.

Terlepas bagaimana keakuratan parameter-parameter untuk kriteria penilaian tadi, bagi saya pribadi Ubud adalah sebuah tempat di Kabupaten Gianyar Bali yang berupa desa dengan suasana kota (desa-kota) yang menyenangkan, dan saya setuju dengan hasil “baik” pada kriteria-kriteria hasil survey pembaca majalah tersebut di atas.

Dalam sebuah perjalanan bisnis party planner selama 4 hari di akhir bulan Juni 2009 lalu, kami (aku dan Endro) sengaja memanfaatkan waktu di sela-sela urusan kerja untuk menikmati suasana kota, dengan minum di kedai kopi bersuasana senja hari, jalan-jalan menyusuri kota di malam dan siang hari, juga menyempatkan diri mengunjungi pasar tradisional di pagi hari. Aroma udara hangat amat terasa yang ditimbulkan perpaduan suasana sehabis hujan dan keredupan sinar mentari serta kontur dataran tinggi dan rendah di sekitar hutan, lembah, sawah dan perbukitan yang melingkupi area kota.

Kota yang relatif tenang ini juga akibat dari tidak adanya angkutan umum selain kendaraan pribadi maupun kendaraan sewa yang antara lain berupa sepeda, sepeda motor dan mobil. Walau sedikit semrawut tapi setidaknya mengurangi kebisingan dan polusi udara akibat emisi gas buang mesin kendaraan yang sudah tua. Situasi ini mewarnai keramaian lalu lintas jalanan yang berkontur turun naik khas perbukitan dari pagi hingga hampir larut malam.

Perpaduan budaya barat dan timur amat terasa. Di Ubud wisatawan dari berbagai ras, suku dan agama dari seluruh dunia bertemu dan berbaur dengan keramahan penduduk setempat layaknya saudara. Bahkan beberapa wisatawan asing kenalan kakak saya dari Jepang hampir setiap tahun datang ke Indonesia dan pasti menyewa vila selama sebulan di Ubud. Klien dan sekaligus teman kami warga negara Italy Mauro dan keluarganya juga memilih Ubud untuk dijadikan “basecamp” tempat menginap selama liburan di Bali.

Bangunan-bangunan tempat tinggal yang masih kental warna adat tradisionalnya dipadupadan dengan fasad bangunan modern juga sah-sah saja menjadi panorama unik di sepanjang jalan-jalan di kota Ubud dan menjadi tempat bisnis café dan restoran, toko kerajinan, super market serta penginapan (rumah tinggal penduduk, vila dan hotel). Yang menakjubkan, bangunan-bangunan pura tempat peribadatan, banjar desa (balai pertemuan) dan gedung-gedung pemerintahan yang tetap menonjolkan bentuk arsitektur khas Bali mengisi ruang-ruang kota dengan indahnya. Keunikan lain, kebetulan penginapan kami berada di Jalan Monkey Forest yang mana tidak jauh sekitar 200 m terletak hutan yang dihuni monyet-monyet yang sering keluar dari hutan berada di jalan dekat toko-toko dan rumah-rumah di sekitarnya berbaur dengan pengunjung tanpa merasa sungkan dan takut.

Kehidupan malam serasa makin memperlambat perputaran sang waktu, jika di kota-kota besar lain malam hari digunakan lebih untuk sosialisasi karena keterbatasan waktu di siang hari, tapi di Ubud malam hari adalah waktu yang tepat demi memperpanjang menikmati hari karena kebanyakan hanya para wisatawanlah yang menyemarakkan ruang-ruang kafe dan resto. Musik-musik modern bergenre pop, rock, klasik, jazz dan tentu saja tradisional Bali juga menjadi perpaduan suara seni yang menawan untuk menemani santap malam dengan aneka menu ala barat dan tradisional Indonesia. Seperti malam itu ketika kami menikmati makan malam di sebuah café pizza, sayup-sayup terdengar bunyi gamelan Bali pengiring Tari Kecak yang sedang dipertunjukkan tidak jauh dari kami berada.

Memang selalu ada kelebihan dan kekurangan, akar budaya tradisional Bali tidak murni lagi terasa. Tapi selama modernisitas desa-kota itu justru menjadi pemberdaya ekonomi warga setempat sebagai destinasi wisata utama khususnya wisata belanja barang-barang seni dan kerajinan (art & craft) serta alam sekitarnya yang indah (ekowisata), Ubud tetap sebuah kota yang NYAMAN untuk ditinggali maupun dikunjungi.

Selamat menikmati kota Ubud !

01-Keremangan pagi di tepi sawah belakang hotel

01-Keremangan pagi di tepi sawah belakang hotel

02-Kenyamanan kerja pagi di teras kamar

03-Bibianu Cafe Jl Monkey Forest

04-Kehangatan kedai kopi

05-Menikmati kopi senja hari

05-Menikmati kopi senja hari

06-Makan malam di kedai pizza

06-Makan malam di kedai pizza

07-Kelengangan jalan di pagi hari

07-Kelengangan jalan di pagi hari

08-Perpaduan toko2 dan trotoar yang khas Ubud

08-Perpaduan toko2 ber-grafitty billboard unik dengan trotoar khas Ubud

09-Transaksi dengan pedagang bunga sesaji

09-Transaksi dengan pedagang bunga sesaji

10-Sudut jalan Sriwedari

10-Sudut jalan Sriwedari

11-Sarapan pagi

11-Sarapan pagi

12-Salon

12-Salon

13-Toko kerajinan

13-Toko kerajinan

14-Minuman penyegar rasa penat

14-Minuman segar pelepas dahaga...slurrppp :) )

15-Kesejukan cafe di bayang daun anggur

15-Kesejukan cafe berbayang daun anggur

Belajar Bicara dari Orang yang Pekerjaannya Bicara

Judul panjang itu sebenarnya hanya plesetan dari belajar public speaking. Dalam Bahasa Inggris speaking tidak sekedar ngomong (talking) tapi “bicara” dan itu ada sekolahnya katanya :)

Pertengahan Juni 2009 kemarin dapat ajakan untuk menjadi pemirsa acara debat capres dengan forum rektor di studio TVOne. Walau tadinya asal ikut tapi akhirnya ada niatan untuk mengetahui dan mengamati bagaimana sih kerja stasiun tv dengan tipe acara talkshow secara teleconference seperti itu. Acara tersebut termasuk high class dari sisi isi, tema, peserta dan teknisnya. Bertemakan pendidikan dan pesertanya jelas calon2 orang nomor satu (dari segi hirarkial organisasi) di bumi pertiwi ini dan para kaum teknokrat dari lembaga pendidikan tinggi ternama. Mengusung acara teleconference pastinya harus menggunakan perangkat alat teknologi komunikasi tercanggih yang harus dikuasai penyelenggara acara.

Sebagai orang awam dalam dunia broadcasting khususnya pertelevisian, sudah kebayang betapa hebat dan berartinya kinerja para awak televisi yaitu produser, pengarah acara, juru kamera, juru rias dan pengarah gaya (stylish), setting area (decorator), pencatat skrip (script writer), teknisi alat dan tentu saja para presenter yang berjumlah empat (4) orang. Mereka harus bekerja keras dengan kemampuan tak biasa untuk mendukung kesuksesan acara tersebut saat on air yang ditayangkan secara langsung itu. Belum lagi menghadapi para pengawal presiden dan wakilnya yang protokolernya begitu ketat, juga sinkronisasi ke empat area yang digunakan sebagai studio.

Karena acara talkshow maka yang utama ingin saya amati adalah bagaimana orang-orang yang terlibat menggunakan kemampuannya untuk berbicara. Para presenter yang sudah dibekali teks skenario tetap harus pinter berimprovisasi menggunakan bahasa tubuh dan suara agar tidak tegang, smart dalam menguasai materi pembicaraan dan dalam “memimpin” para elit politik dan teknokrat itu agar arah pembicaraannya sesuai yang diharapkan.

Masuk dalam acara inti, tiba-tiba ingatan saya kembali ke beberapa bulan yang lalu tepatnya awal Nopember tahun silam. Saat itu saya mengikuti workshop singkat tentang public speaking. Instrukturnya seorang public speaker dan model iklan cukup ternama (info dari yang bersangkutan lho) memaparkan bahwa untuk pintar dan atraktif/menarik dalam berbicara di depan publik harus menguasai 3V: 1) visual (penampilan) yang ternyata amat penting dengan 55% kemampuan, 2) vocal (suara) sebesar 38%, dan 3) verbal (kata-kata atau materi yang akan disampaikan) yang hanya 7%.

Walau hanya 7% ternyata materi inilah yang paling mendasar untuk dikuasai, karena orang bicara memang menyampaikan sesuatu untuk didengar oleh orang lain. Materi yang paling menarik adalah yang bisa memecahkan kekakuan suasana (ice breaker) dan berenergi (energizer) yang dicontohkan oleh dia misal: info2 yang menarik dan bila perlu disertai angka-angka sebagai bukti.

Dalam ilmu psikologi telah diketahui bahwa fungsi otak manusia bisa dibedakan menjadi otak kanan (tempat rasa, emosi, intuisi dan seni) dan otak kiri (tempatnya sains dan logika). Jadi kalau berbicara di depan orang-orang yang terbiasa menggunakan otak kiri atau terlalu berlogika gunakanlah angka-angka biar mereka “rontok” katanya :)

Kembali ke acara, dan terlepas dari apakah para capres saat itu memang telah menguasai ketrampilan berbicara karena sebagai public figure dan pemimpin masyarakat dituntut untuk mampu berorasi dalam menyampaikan pendapat dan gagasan atau telah berupaya mempersiapkan diri karena akan berbicara di depan para profesor dan doktor (yang pandai berlogika). Juga apakah hasil pemilu 8 Juli kemarin itu demokratis atau tidak, teknis penghitungan suara quick count itu sudah canggih dan jujur dan sebagainya, ternyata capres yang menuai perolehan angka tertinggi sebagai kandidat presiden periode berikutnya adalah yang dalam acara teleconference malam itu banyak berbicara menggunakan data-data dan angka-angka dalam mengemukakan program kegiatan dan pendapatnya.

Saya pribadi tidak membela siapapun, karena saya kurang mengamati para capres itu berkampanye di luar malam itu (maaf karena memang malas mengikuti berita kampanye), saya cuma menuliskan pendapat pribadi sebagai “wong biasa”, yang netral dan tidak golput tapi pingin mempelajari teknik berbicara saja. Boleh dibuktikan…:))

10 Juli 2009

Teleconference Capres
Presenter siap2

Sumber: http://www.facebook.com/?ref=home#/notes.php?id=528923811

Friday, July 10, 2009 at 12:54pm

Bukan Sekedar Sapa Mesra

“Hai Cin..”, demikian judul tulisan Mas Samuel Mulia di artikel Parodi Kompas Edisi Minggu kemarin. Aku terpana sekaligus tersentuh baca uneg-unehnya itu. Karena walo hanya sebuah sapaan biasa tapi ternyata sarat makna, tergantung bagaimana kita merasakan dan sekaligus mengartikannya. Menurut Mas Sam sapaan teman-temannya itu berarti bisa bermakna ganda antara ketulusan (sincere) atau kemunafikan. Apalagi dalam dunia gaul sosialita, yang katanya penuh dengan basa basi agar tak tersisih dari lingkungannya. Maaf selebrisitas belum jadi duniaku, jadi kurang ngeh yang beginian Mas Sam (kalo dia baca…:)), walau tetap juga terjadi dalam lingkup sekecil dan sesederhana apapun.

Karena aku juga pernah disapa temen pria muda yang baru saja kenal dengan tambahan kalimat rada “mesra” tersebut 2 tahun lalu. Aku sejenak juga terpana sih. Lha wong belum kenal banget2 kok mas-mas yang satu ini manggil “Say” walau tujuannya mau minjem sesuatu dariku. Hi hi hi….Meskipun ini jarang terjadi padaku bahkan agak langka, tapi aku gak cukup ge er dengan kata-kata itu karena kuketahui sudah jamak alias lumrah dipakai dalam lingkup pergaulan sehari-hari oleh siapapun yang merasa akrab atau biar lebih akrab.

Namun satu hal, menurut saya pribadi yang sejak lahir sudah terbiasa mendengar aneka jenis kata-kata sekaligus intonasinya (ya iyalah wong aku bersyukur gak tuli he he), semanipulatif apapun tujuan sapa “mesra” itu digunakan, tetap terasa lebih hangat dan nyaman didengar daripada kata-kata keras, mengandung amarah apalagi jenis sumpah serapah.

Kenapa begitu ya?

Dari sedikit buku yang kubaca tentang ilmu fisika kuantum (bukan fisika yang mengandung rumus2 memabukkan itu sih, kalo ini mah lemot abis akunya, jadi malu hati), tapi ilmu yang diyakini bahkan oleh Bapak Relativitas Einstein menyatakan bahwa semua pikiran, kata-kata dan perasaan yang dilakukan oleh manusia (khususnya) adalah benda yang berbentuk gelombang elektromagnetik. Salah satu pakar ilmu ini seorang spiritualis dari Amerika Mary T. Browne dalam buku terjemahannya “5 Pokok Pikiran” disebut jelas bahwa kata-kata yang kita ucapkan itu memiliki bentuk, warna dan getaran dan memancar alias menabrak orang-orang di sekitarnya dalam jarak dengar. Warnanya biasa disebut aura, yang akan berubah-ubah sesuai emosi yang terkandung. Kalau kata-kata yang terucap itu kalimat positif yang menyenangkan bentuknya bagus dan warnanya menarik. Dan sebaliknya jika kata-kata negatif seperti amarah, umpatan, hinaan dsb. bentuk dan warnanya mengerikan kata dia (kebetulan bisa melihat karena seorang cenayang).

Jadi, karena kata-kata itu benda yang berwujud namun gak nampak oleh mata fisik, maka betapa dahsyat efek yang dihasilkan bukan? Kita seolah-olah melempar sebuah benda kepada orang-orang di sekitar kita. Alangkah sembrononya jika kata-kata yang kita produksi itu kenegatifan yang berakibat buruk bagi yang mendengarkan. Kita akan merasa nyaman jika yang didengar adalah kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat, dan sebaliknya akan terasa “remuk” hati kita jika itu adalah kata-kata kecaman.

Hmmmm berapa kali ya kata-kata negatif yang pernah kuucapkan?…Maafkan temans siapapun yang pernah kena imbasnya.

Courtesy Dian Sundari Photo: Tanjung Lesung Sunrise
Sumber: http://www.facebook.com/?ref=home#/notes.php?id=528923811

Tuesday, May 12, 2009 at 12:07pm

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Selamat Datang !

Selamat datang di blog saya, semoga tulisan, cerita, dan foto-foto yang ada mampu menambah wawasan. Silahkan meninggalkan komentarnya.

Categories

Archives

Dewi's Flickr

Tari Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Pedati Gede Pekalangan - Kraton Kasepuhan Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Juru Mudi - Kraton Kacirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Paksi Naga Liman - Kraton Kanoman Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

More Photos

twit @dewist1

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

Blog Stats

  • 2,980 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.