Sebagian dari kita secara psikologis senang yang namanya jalan-jalan (traveling). Dari sudut pandang manapun syah-syah saja konsep traveling itu dipilih untuk dilakukan. Ada yang beralasan untuk refreshing, melihat hal-hal baru dan indah di belahan manapun di dunia, mencari pengalaman baru, petualangan, sebagai bagian dari pekerjaan, gathering dengan teman dan keluarga, bagian dari gaya hidup atau memang sekedar bepergian dari satu tempat ke tempat lain karena tradisi budaya dan ziarah keagamaan dan lain sebagainya.
Bahkan Sang Khaliq juga memerintahkan. Secuplik ayatnya “Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi [bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana], maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka (QS Al-Mu’min [40] 82).
Mengambil pelajaran akan keindahan, kebesaran dan keagungan Sang Pencipta memang dasar utama, namun terus terang sebagian dari kita pasti akan selalu menganggap bahwa jalan-jalan adalah untuk senang-senang atau refreshing. Yang artinya semua dari kita berharap agar sekembalinya dari perjalanan mendapat kebahagiaan atau energi yang lebih “fresh” untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Benarkah? Mari coba kita telusuri hal-hal apa saja yang kita “tuai” dari traveling itu, baik dari pengamatan ke sekitar (teman-teman perjalanan) atau pengalaman pribadi:
- Di jaman serba gadget canggih ini siapa sih yang gak selalu ingin lihat dan update omongan, aktualisasi diri, bikin komentar di social media (facebook, twitter, google+, YM dsb), belum lagi BBM (bagi pengguna HP khusus itu), bales sms, email maupun telpun. Lalu kapan menikmati tempat traveling yang dituju, kalau pikiran dan rasa masih tertinggal di gadget?
- Saat akan pergi ke tempat tujuan, yang dibayangkan adalah tempat-tempat yang indah, jadiiiii kalau ternyata tempat yang dituju dengan biaya yang relatif mahal gak seperti impian, apa yang Anda pikir dan rasakan?
- Jiwa raga lelah karena lama waktu tempuh, kemudian menghadapi pelayanan yang ditawarkan oleh sarana prasarana yang begitu adanya, dan apa yang timbul? Itu semua adalah “kejahatan” pemerintah yang gak “pecus” mengelola, anggaran dikorupsi dsb. Dan jika itu dikelola perorangan atau swasta maka saat itu juga atau besoknya sudah muncul status celaan, grundelan dan hujatan di facebook, twitter dan aneka media lainnya….nikmatkah perjalanan seperti ini? hmmmm
- Sikap teman perjalanan yang aneka rupa, sepertinya termasuk “pengganggu” paling canggih dalam kenikmatan perjalanan. Betulkannnnnn ? Bohong kalau tidak ngaku :p
- Hal lain apa yang biasa kita temui? Anda bisa menambahkan di sini
Yahhh….begitulah kita sebagai manusia yang dilengkapi akal dan emosi, yang kalau tidak dikelola dengan tepat, tidak akan menuai hal yang lebih positif yang bisa kita rasakan.
Satu-satunya jalan untuk menikmati apapun hasil traveling adalah “MENERIMA” sepenuh rasa dengan seluruh indra (mata, telinga, mulut, kulit dan raga).
Usaha minimal yang bisa kita lakukan adalah:
- Matikan dan simpan gadget untuk lebih menghormati alam, lingkungan dan teman, jika belum mampu menerima mereka dalam menikmati perjalanan.
- Hargai secara apa adanya kondisi alam, lingkungan serta fasilitas yang ada, anggap itu “kelebihan” yang dimiliki untuk lebih bersyukur bahwa apa yang kita punyai jauh lebih layak dan nyaman.
- Bagaimanapun sikap dan perilaku teman, cocok maupun gak cocok, sejak dari awal mereka bersedia menjadi teman perjalanan kita. Jadi terima saja dia saat itu
- Rekam jejak perjalanan kita dalam dokumentasi pribadi baik dalam bentuk gambar dan tulisan, untuk kita kisahkan kembali kepada siapapun yang membutuhkan. Lebih bermakna kalau itu dari sisi positifnya.
Gak tahu apakah itu bisa menghibur, merusak atau apakah memang bakal me-refresh energy yang kita harapkan, yang pasti semua adalah pembelajaran luar biasa dari Sang Maha Pencipta untuk kita semua. Menjadi manusia yang lebih baik, biasa saja atau kurang, tetapi saya percaya bahwa semuanya tetap bermakna.
Bagaimana pengalaman Anda teman? Bisa di-share di sini…….selamat ber-traveling dengan spirit ya



































































