Catatan Pemudik 1: Mudik, Traveling Bersih-bersih

Keceriaan Ramadhan di Pekuburan Pulau Tidung

Keceriaan Ramadhan di Pekuburan Pulau Tidung

Berawal dari sebuah pertanyaan di salah satu milist yang saya ikuti, dimana salah satu teman melemparkan pertanyaan tentang mudik di Indonesia kenapa tidak dijadikan ajang promosi wisata? Kebetulan “pesta mudik” tahun ini belum usai, maka saya tergelitik untuk mencoba bikin tulisan ini.

Fenomena mudik di Indonesia memang luar biasa. Negara yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia ini setahun sekali selalu ada acara mudik besar-besaran yang khusus terjadi pada Hari Raya Idul Fitri. Saya kurang tahu kenapa tradisi mudik ini dipilih warga muslim (dan non muslim) Indonesia hanya pada Hari Raya Idul Fitri, meskipun ada hari-hari besar keagamaan lainnya. Sementara di negara asal agama Islam yaitu Arab Saudi tidak ada tradisi mudik apalagi yang tergolong besar-besaran seperti di Indonesia. Di sana yang ramai justru pada saat Hari Raya Idul Adha atau puncaknya ibadah haji dilaksanakan.

Mudik yang diartikan kegiatan para perantau untuk kembali ke kampung halamannya (http://id.wikipedia.org/wiki/Mudik) ini, menurut budayawan Umar Kayam dipelopori oleh masyarakat Jawa sejak sebelum berdiri Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu mudik dilakukan dengan melakukan ritual doa kepada dewa-dewa untuk membersihkan kuburan dan kampung halamannya. Namun setelah agama Islam datang, ritual itu dianggap syirik (menyekutukan Tuhan) dan digantikan menjadi budaya mudik untuk silaturahmi di hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri (http://www.surya.co.id/2010/09/07/mudik-atau-pamer-sukses.html).

Dengan mengetahui kronologis tradisi mudik berawal, ternyata mudik bukan sekedar traveling biasa. Tapi orang sengaja melakukan suatu perjalanan – dekat maupun jauh – ke tempat leluhurnya berasal, bertujuan melakukan ritual “bersih-bersih” secara fisik maupun non fisik (hati/jiwa).

Traveling ke Masjid Menoro Kudus

Traveling ke Masjid Menoro Kudus

Baik agama sebelum Islam maupun Islam sendiri, ternyata mengajari tentang tradisi “kebersihan”. Kegiatan ini kalau diimplementasikan secara nyata, maka akan menimbulkan efek pembelajaran secara luar biasa. terhadap lingkungan sekitar kita.

Dari segi fisik, membersihkan rumah, halaman, jalan desa, kuburan dsb – dalam tradisi Islam di Jawa bersih kubur dilakukan sebelum bulan puasa (nyadran) dan saat hari raya – berarti mengajari kita untuk selalu menjaga kebersihan dan keindahan lingkungannya, terlebih jika rutinitas ini dilestarikan bukan hanya saat hari-hari tertentu saja.

Tentang kebersihan non fisik (hati/jiwa), mengambil ajaran Islam dimana umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah yang artinya membayarkan sebagian hartanya dalam jumlah tertentu sebagai pembersih jiwa dan menjadi penutup ibadah sebulan berpuasa, maka Hari Raya Idul Fitri diartikan sebagai telah kembalinya jiwa-jiwa (hati) yang bersih.

Ritual tidak hanya berhenti disitu, karena dalam budaya Idul Fitri di Indonesia masih dilanjutkan dengan aktivitas silaturahmi baik kepada keluarga, tetangga dan warga yang ditemuinya. Efeknya apa? Kita diminta untuk mampu berlaku ramah, berempati, memberi, menghargai, melayani tamu, saling memaafkan, dan sikap-sikap positif lainnya, yang berakibat pada terjalinnya tali persaudaraan diantara sesama. Hmmm!

Karena saya ingin memfokuskan fenomena mudik dalam kaitannya dengan promosi wisata Indonesia, maka ritual pembersihan fisik dan non fisik ini tentu luar biasa pula efeknya. Jika budaya “bersih” telah mengakar kuat dalam benak dan menjadi sikap dasar masyarakat Indonesia, akan menjadi motor penggerak wisata yang brilian. Kenapa? Lingkungan yang bersih, indah serta keramahtamahannya, secara otomatis menjadi magnet tersendiri bagi bangsa-bangsa lain untuk ber-traveling ke negara tercinta ini.

Apalagi tradisi mudik ini seperti peristiwa exodus yang diliput media secara besar-besaran. Promosi gratis sudah pasti terjadi.

Tertarikkah Anda untuk selalu mengimplementasikan “kebersihan” ini sehari-hari? :)

2 Responses to “Catatan Pemudik 1: Mudik, Traveling Bersih-bersih”


  1. 1 didi aja 7 October 2010 at 16:43

    gak dipromo aja, waktu lebaran tempat wisata udah pada macet neng… kkkk. ndak riyayan di semarang to jeng dew..?

    • 2 Dewi Setiawati 7 October 2010 at 16:57

      emang macet dimane2, tapi itulah uniknya mudik…

      krn ada yg bertanya knp mudik gak dijadiin promo wisata, makanya agak tergali bhw sejarah mudik bertujuan utk “bersih2″ secara keseluruhan, efeknya Indonesia tercinta jd indah kan heheh

      mudik to yo ke Semarang Kota Atlas tercinta :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Selamat Datang !

Selamat datang di blog saya, semoga tulisan, cerita, dan foto-foto yang ada mampu menambah wawasan. Silahkan meninggalkan komentarnya.

Categories

Archives

Dewi's Flickr

Tari Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Pedati Gede Pekalangan - Kraton Kasepuhan Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Juru Mudi - Kraton Kacirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Paksi Naga Liman - Kraton Kanoman Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

More Photos

twit @dewist1

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

Blog Stats

  • 3,122 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.