Catatan Pemudik 2: Mudik, Menjadi Traveler yang Bertanggungjawab ?

Hargailah Produk Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Hargailah Produk Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Seumur hidup saya, nyaris setiap tahun selalu melakukan tradisi mudik pada Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Dari sisi kegembiraan, tentu saja luar biasa gembira. Saya kurang tahu bagaimana awalnya kenapa setiap Lebaran selalu menciptakan suasana kegembiraan tersendiri. Namun dibalik semua kemeriahan dan kegembiraan “pesta” Lebaran ini, selalu ada yang mengusik kegembiraan saya dalam menyambutnya, bahkan kadang bisa merusaknya. Yaitu saat ber-traveling itu sendiri.

Traveling mudik jelas memerlukan alat transportasi agar sampai ke tempat tujuan sesuai waktu yang direncanakan. Memperoleh moda tranportasi yang layak, berikut kemudahan dalam memperolehnya serta biaya yang relatif murah akan sangat mendukung kenyamanan untuk bertraveling.

Tetapi yang saya rasakan semakin tahun jika Lebaran tiba, soal transportasi ini bukannya bertambah nyaman, mudah serta murah, malah sebaliknya.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah turut mendukung biaya mahal serta terbatasnya angkutan umum bagi rakyat. Semua perusahaan transportasi ramai-ramai menaikkan tuslah biaya transportasi nyaris 100%.

Dapat dibayangkan masyarakat umum cenderung menggunakan kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasi murah. Ribuan mobil-mobil pribadi atau sewaan dan sepeda motor, yang jumlahnya makin meningkat dari tahun ke tahun otomatis menyesaki jalanan menuju daerah tujuan.

Apa akibat semua itu? Kemacetan sudah menjadi gambaran umum yang bisa dilihat dimana-mana pada seminggu sebelum maupun sesudah Lebaran, terutama di jalur-jalur yang ramai.

Dari yang saya lihat perilaku para traveler ini banyak yang kurang bertanggungjawab, mereka cenderung kurang memperhatikan keselamatan pribadi apalagi keselamatan traveler lain.

Dengan alasan ingin segera sampai ke tempat tujuan, perilaku egois untuk mendahului traveler lainnya sangat mengerikan. Kebut-kebutan (supaya tidak ngantuk), syah-syah saja dilakukan. Bahkan kalaupun terpaksa parkir istirahat, kadang berhenti begitu saja di pinggir jalan yang sempit dan akan mengganggu pengguna jalan lainnya. Yang ekstrim, saking ngantuknya ada yang berhenti begitu saja di tengah jalan, bisa dibayangkan kejadian macet berjam-jam ternyata kadang akibat ulah mereka ini.

Hargailah Traveler Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Hargailah Traveler Lokal - Potret Mudik di Jalanan Pekalongan 2010

Pemudik sepeda motor manurut saya malah makin sembrono. Mungkin karena merasa tidak memerlukan area yang lebar, mereka dengan leluasa belak belok zig-zag disela-sela mobil-mobil besar baik dari sisi kanan maupun kiri kendaraan. Selain bikin para sopir mobil kebingungan, juga bikin miris yang melihatnya karena mereka seringkali memboncengkan keluarga atau temannya melebihi kapasitas yang diijinkan. Yang lebih ngeri kalau ada bayi diantara yang diboncengkannya. Duh !

Mudik di waktu malam tak lebih nyaman dari siang hari, hanya kalau malam, para pengguna jalan dari penduduk lokalnya jauh berkurang, dan tidak sepadat siang hari. Namun bisa saja karena penerangan yang kurang, terserang kantuk dan lelah, tetap saja berbahaya jika tidak hati-hati.

Sementara mudik di siang hari, para traveler harus lebih bertanggungjawab memperhitungkan lalu lintas lokal, khususnya keramaian pusat-pusat kota dan pasar-pasar tradisional.

Saat mudik dua minggu lalu, saya sengaja memperhatikan dengan rasa miris ketika lewat di pusat kota kecil sepanjang pantura Pulau Jawa, khususnya yang ada pasar tradisionalnya, dimana penduduk lokal yang bepergian dengan kendaraan tradisional – becak, dokar, dan sepeda – seperti tersisih dari kehebohan tranportasi modern. Waktu itu bahkan saya lihat seorang ibu dengan sekarung besar bawaan di boncengan sepedanya, terpaksa terseok-seok berusaha jalan ke pinggir agar tak tersenggol kendaraan besar. Hmm…

Dari pengalaman bertahun-tahun mudik, secara pribadi saya selalu merenung dan bertanya apakah menjadi pemudik yang bertanggungjawab itu sulit?

Mungkin banyak yang akan menjawab “sulit”, dan malah lempar melempar tuduhan yang intinya “bukan diri sendiri” penyebab masalah kerumitan bermudik, tapi unsur eksternal yaitu orang lain dan pasti berujung pada kebijakan pemerintah yang kurang benar. Baiklah, memang yang memiliki otoritas pembuat aturan dan infrastruktur umum yang berimplikasi pada kenyamanan dan kesejahteraan bersama adalah pemerintah, tapi kalau tidak didukung para individu untuk “bertangungjawab” dalam menyamankan diri sendiri dan sesamanya, maka semua aturan pemerintah juga tidak ada artinya.

Dalam kasus mudik, kalau setiap individu mampu memahami bahwa tujuan mudik adalah dalam rangka silaturahmi (karena puncaknya pada Hari Lebaran) yang beresensi luas maka hal-hal sederhana berikut jika dipraktekkan akan berakibat “mudah” bagi semua:

  • Bersikap TENANG dalam ber-traveling, meskipun ini agak sulit diterapkan tapi ternyata menjadi kontributor paling signifikan dalam kebaikan bagi sekitarnya, karena hati yang tenang akan mengeluarkan energi positif yang menurunkan tingkat kekacauan sekitarnya (Buku “Law of Resonance” karya Pierre Franckh).
  • Bersilaturahmi: menganggap sesama pemudik dan penduduk lokal yang dilaluinya adalah saudara, otomatis sikap positif terhadap sesama muncul dalam berbagi fasilitas umum (jalanan, tempat istirahat, tempat parkir dsb.)
  • Tenggang rasa: rela antri, mendahului dengan cara yang aman dan beristirahat di tempat yang tidak mengganggu kelancaran berlalu lintas.
  • Pemberdaya: jika belanja pilihlah yang memberdayakan ekonomi penduduk setempat, misal makan di warung/resto, makanan khas dan produk lokal lainnya.
  • Menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan tempat-tempat yang dilaluinya.
  • Mematuhi peraturan lalu lintas yang ada.
  • Jika naik kendaraan umum, tidak berebutan secara berlebihan yang berujung pada kekerasan fisik pada sesama traveler lain.
  • Dan sikap positif lainnya.

Siap menjadi traveler yang bertanggungjawab ? :)

2 Responses to “Catatan Pemudik 2: Mudik, Menjadi Traveler yang Bertanggungjawab ?”


  1. 1 nadiafriza 27 September 2010 at 23:49

    hmm.. orang yang mudik itu bisa dianggap traveller ya? arti katanya memang orang yang bepergian. tapi saya selalu berpikiran kalo traveller itu orang yang jalan2 hehe

  2. 2 Dewi Setiawati 30 September 2010 at 13:08

    iya Nadia, krn prinsip aku semua orang yg bepergian adalah traveler, apalagi traveling mudik kan juga dlm rangka jalan2 karena liburan (ke kampung halaman) :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Selamat Datang !

Selamat datang di blog saya, semoga tulisan, cerita, dan foto-foto yang ada mampu menambah wawasan. Silahkan meninggalkan komentarnya.

Categories

Archives

Dewi's Flickr

Tari Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Topeng Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Pedati Gede Pekalangan - Kraton Kasepuhan Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Juru Mudi - Kraton Kacirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

Kereta Paksi Naga Liman - Kraton Kanoman Cirebon - Festival Topeng Nusantara 2010

More Photos

twit @dewist1

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

Blog Stats

  • 3,122 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.